Mimpi yang terbeli (Contoh Prosa)


http://www.berkado.com/2015/10/tips-beli-catokan-rambut.html

Mimpi yang terbeli
Saya jadi ingat bagaimana ketika massa kecil ibu saya sering bertanya ke saya.

Dani, besuk kalau sudah besar mau jadi apa?. Dengan konyolnya saya pun menjawab saya ingin jadi dokter ibuk. Biar bisa suntik orang cus cus cus. Tapi seiring berjalannya waktu saya lebih memilih menjad politikus, biar terlihat keren karena berpikir untuk mensejahterahkan masyarakat :).

Lebih konyol lagi teman saya, ketika orang tuanya bertanya dia pun menjawab. Saya ingin jadi raja, biar bisa berlaku semaunya. Hehehehe, kalau sudah besar seperti ini seolah semua impian itu omong kosong yah :)
Saya masih ingat betul, bagaimana saya ketika SD. Saya begitu semangat belajar, saya begitu termotivasi untuk mendalami setiap materi yang diberikan bapak-ibu guru. Jadi Anda semua jangan kaget jika melihat raport saya sewaktu SD. Semuanya angka 9 loh, hehehe. Jadi sedikit pamer
Waktu berjalan, SMP dan SMA pun sudah saya lalui. Namun ketika sudah kuliah, ada beberapa pertanyaan dalam benak saya.

Dimana impian yang dulu sewaktu saya kecil sudah saya bangun, dimana impian-impian teman-teman saya dulu. Semuanya musnah, mimpi yang sudah kami bangun dihancurkan sendiri oleh orang tua dan para guru kami.
Suatu hari aku dan teman-teman pernah berkunjung ke Sekolah Dasar tempat kami menempah ilmu dulu, saat itu kami berencana sharing masalah masa depan. Kebetulan saya sendiri ambil FISIP. Namun ketika saya tanya ke guru mereka bilangnya, sehabis lulus langsung bisnis buku saja, kamu cetak buku-buku pelajaran terus kamu kirim ke sekolah-sekolah dasar, nanti ibu bantu kok. Saya jadi berpikir dan heran, apa hubungannya FISIK sama percetakan buku.
Ketika saya tanya kedua orang tua jawabannya juga begitu, mending ikuti saran guru kamu saja. Belajar bisnis percetakan buku biar uangnya banyak.

Saat itu saya jad berpikir, bukankah mereka yang membangun mimpi saya, bukankah mereka yang menyuruh saya untuk bermimpi, bukankah mereka yang mendukung saya untuk selalu bermimpi.
Tapi kenapa justru mereka sendiri yang menghancurkan mimpi saya lantaran takut saya tidak punya materi ketika menjalani hidup di dunia ini.

Ironi memang, tapi itulah dunia mimpi dan dunia pendidikan di Indonesia. Semuanya salah kaprah dan tidak mendukung. Terimakasih

Created By DANI CAMARA

Posting oleh Blogger ke Dani Camara pada 4/24/2013 06:47:00 PM

<i>tekt miring</i> | <b>TEKS TEBAL</b>

[img]link Image Anda[/img]

[youtube]link video youtube[/youtube]



 
© 2011 Buku PR, TUGAS, dan Catatan Sekolah | www.ok-rek.com | Duwur | okrek | omaSae | BerKADO | Facebook | Twitter | Versi MOBILE