DAN PERANG PUN USAI (Contoh Sinopsis Novel)


Karya : Ismail Marahaimin


Secara diam-diam tawanan dalam kamp tawanan di Teratak Buluh merencanakan untuk melarikan diri. Rencana pelarian itu datang dari Wimpie, seorang tawanan bekas serdadu Belanda.
Sebenarnya tidak semua tawanan dalam kamp yang oleh Letnan Satu Gentaro Ose setuju dengan rencana Wimpie.
Salah seorang yang paling tidak setuju adalah Pastoor Van Roscott, seorang warga Belanda. Dia selalu berusaha membujuk teman-temannya untuk tidak melarikan diri. Dia yakin bahwa perang tidak lama lagi akan usai. Kalau perang usai, mereka akan dibebaskan dari kamp tawanan di Teratak Buluh itu. Akan tetapi, Wimpie tidak mau mendengar alasan dan nasihatnya. Dia tetap bersikeras untuk segera melarikan diri dari kamp tawanan tersebut. Sebagian dari mereka ada yang setuju dengan Wimpie dan sebagian lain mendukung Van Roscott. Akibatnya, sering terjadi pertengkaran antartawanan dan sering terjadi perselisihan antara pihak Wimpie dengan pihak Van Roscott.
Letnan Gentaro Ose sebagai kepala yang membawahi sepuluh orang prajurit Jepang tidak mengetahui ketegangan tersebut.
Dia baru mengetahuinya ketika sersan Kiguchi menemuinya dan melaporkan, para tawanan yang terdiri dari 31 orang Belanda dan seorang pribumi sering melakukan pertengkaran. Sersan Kiguchi tidak mengetahui penyebab pertengkaran itu, namun ia mempunyai firasat bahwa akan terjadi sesuatu di dalam kamp tawanan Teratak Buluh.
Sementara itu, Wimpie terus mendesak para tawanan untuk melarikan diri dari kamp tawanan. Mereka yang setuju dengan pelarian tersebut, secara diam-diam telah menyusun strategi.

Jalan-jalan yang hendak mereka lewati telah mereka tentukan.
Siapa yang menjadi penunjuk jalan pun sudah mereka tentukan, yaitu pak tua Hasan. Dialah yang akan menyiapkan bahan yang diperlukan untuk pelarian itu. Dia juga yang menyediakan perbekalan makanan selama perjalanan menuju "Kampung Terasing", sebagai tujuan akhir persembunyian mereka. Semua sudah benar-benar dipersiapkan dengan matang. Mereka hanya tinggal menunggu waktu pelaksanaannya.
Penyusunan rencana Wimpie yang sangat rinci dan matang itu sebenarnya dibantu oleh Kliwon, seorang pribumi bekas romusa yang mengetahui seluk beluk daerah Teluk Buluh. Lelaki itu juga mempunyai banyak hubungan dengan orang-orang di daerah Teratak Buluh, di antaranya Haji Zein, ayah pacar Kliwon dan pak tua Hasan yang merupakan sahabat Kliwon.
Sebenarnya, Kliwon tidak menyetujui rencana pelarian itu, namun karena rahasianya banyak diketahui Wimpie, dia terpaksa mengikuti kemauan Wimpie karena lelaki tua itu mengancam jika Kliwon tidak membantunya, dia akan menyebarluaskan perbuatan buruk yang telah ia lakukan.
Kliwon tidak menginginkan hal itu terjadi karena dia yakin bahwa Wimpie akan melaksanakan ancamannya bila dia tidak membantunya.
Wimpie mengetahui perbuatan Kliwon di Pekanbaru saat lelaki itu menjalin hubungan gelap dengan wanita yang telah bersuami. Ia juga mengetahui ketika Kliwon dikejar-kejar oleh wanita tersebut. Juga perbuatannya dengan Lena sudah diketahui oleh Wimpie, dia akan membeberkan kepada Haji Zein jika Kliwon tak menurut perintahnya. Kliwon menyesal telah menceritakan semua itu kepada Wimpie. Namun, semuanya telah terjadi dan dia harus bersedia ikut dengan Wimpie.
Sebelum rencana pelarian dilaksanakan, para tawanan itu tidak tahu bahwa perang telah usai. Jepang telah menyerah kalah kepada Sekutu. Itulah sebabnya Letnan Gentaro Ose dipanggil oleh pimpinan pusat di Pekanbaru. Dia mendapat pengarahan dari panglima besar tentara Jepang tentang pemulangan tawanan perang. Dia juga diberi penjelasan bagaimana memperlakukan mereka sambil menunggu kedatangan Sekutu di Pekanbaru.
Itulah sebabnya, pimpinan sementara kamp tawanan Taratak Buluh dipegang Sersan Kiguchi. Dalam memimpin tawanan tersebut, Sersan Kiguchi sangat kejam. Jika melihat tawanan yang malas, lalu dia menyiksanya. Dia memaksa para tawanan untuk bekerja keras. Kliwon menyaksikan semua penyiksaan itu.

Pada suatu malam, ketika baru pulang dari rumah Lena kekasihnya, dia melihat Pastoor Van Rescott disiksa oleh Sersan Kiguchi. Waktu itu dia tidak berani pulang ke kamp tawanan, dia tidur di rel kereta api dan hampir tergilas oleh kereta api yang lewat. Untung saja, masinis kereta api mampu menghentikan kereta api dengan paksa. Kliwon hampir saja remuk dipukuli para penumpang kereta. Mereka menuduh Kliwon hendak mencuri barang-barang mereka. Namun, kemarahan mereka mereda berkat penjelasan Kliwon.
Beberapa hari kemudian, Letnan Ose kembali dari Pekanbaru.
Dia mengumpulkan seluruh prajurit Jepang yang bertugas di kamp tawanan. Mereka mengadakan apel pagi seraya mendengar pengarahan dari Letnan Ose sehubungan dengan hal-hal yang didapatnya dari panglima besar tentara Jepang di Pekanbaru. Rupanya rencana apel mendadak yang dilakukan Letnan Ose dan seluruh stafnya di lapangan kamp tawanan itu diartikan lain oleh para tawanan. Mereka menganggap bahwa apel itu dilaksanakan untuk membantai mereka. Itulah sebabnya, ketika Letnan Ose dan stafnya berkumpul di lapangan, para tawanan nekad melarikan diri.
Di tengah perjalanan, rombongan yang melarikan diri bertambah satu orang lagi, yaitu Lena, anak gadis Haji Zein bersikeras hendak ikut rombongan pelarian kamp tawanan. walaupun sudah dilarang oleh pak tua Hasan, gadis itu bersikeras untuk ikut sebab dia tidak mau berpisah dengan Kliwon. Dia tidak mau Kliwon meninggalkannya.
Namun, sebelum rombongan sampai di "Desa Terasing" sebagai tujuan akhir tempat pelarian mereka, mereka dicegat oleh sekelompok tentara Jepang. Dalam keadaan terkepung, para tawanan berusaha melarikan diri. Hanya tiga orang yang tidak berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara Jepang, yaitu Pastoor Van Roscott, Kliwon, dan Lena. Walaupun dalam keadaan yang sangat gawat, Pastoor Van Roscott tidak terlihat gentar. Dia terlihat tenang-tenang saja, sedangkan Kliwon dan Lena merasa ketakutan luar biasa. Kemudian terdengar perintah menembak dari mulut Letnan Ose. Peluru pun berhamburan menerpa tubuh mereka. Ketiganya roboh dan meninggal dunia di tempat itu. Selesai.
Sumber : Supratman Abdul Rani dalam Ikhtisar Roman Sastra Indonesia, Pustaka Setia,1999.



<i>tekt miring</i> | <b>TEKS TEBAL</b>

[img]link Image Anda[/img]

[youtube]link video youtube[/youtube]



 
© 2011 Buku PR, TUGAS, dan Catatan Sekolah | www.ok-rek.com | Duwur | okrek | omaSae | BerKADO | Facebook | Twitter | Versi MOBILE