Dinasti Sanjaya, Sriwijaya pusat penyebaran Agama Budha, Kutai dan Tarumanegara

Bukti  Dinasti Sanjaya memiliki toleransi yang tinggi
Hubungan antara kalangan istana dan desa-desa cukup erat walaupun terdapat perbedaan antara keadaan di keratondan di desa, rakyat biasa tidaklah terasing dari kalangan keraton. Dan juga terdapat pembagian tugas yang jelas diantara aparat kerajaan. Juga terdapat peraturan-peraturan yang perlu ditegakkan oleh semua orang karena terdapat penjahat-penjahat yang mengganggu keamanan.
Bukti Sriwijaya merupakan pusat penyebaran Agama Budha
Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat pertemuan antara jemaah agama Budha dari Cina ke India dan sebaliknya. Pujangga dari berbagai negeri berkumpul untuk membahas ajaran agama Budha. Melalui pertemuan ini, di kerajaan Sriwijaya  berkembang ajaran agama Budha Mahayana. Perkembangan agama Budha di kerajaan Sriwijaya banyak diberitakan oleh musafir Cina yang bernama I-tsing. Setelah bertolak ke India pada tahun 672 M dan waktu pulang pada tahun 685 M, ia singgah dan tinggal di kerajaan Sriwijaya selama 10 tahun. Ia banyak mempelajari dan menerjemahkan ajaran Budha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina. Ditemukannya sebuah area Budha peninggalaan kerajaan Sriwijaya menandakan bahwa Sriwijaya sebagai pusat penyebaran agama Budha.
Hinduisme pada Kutai dan Tarumanegara
Kutai : ditemukannya Yupa yang merupakan salah satu hasil budaya masyarakat Kutai. Yupa merupakan sebuah tugu batu untuk mengikat kurban yang dipersembahkan. Salah satu Yupa menyebutkan satu tempat suci dengan kata vaprakecvara yang diartikan sebagai sebuah lapangan luas tempat pemujaan dewa Siwa. Buktinya :
1.  Besarnya pengaruh kerajaan Pallawa yang beragama Siwa menyebabkan agama Siwa terkenal di kutai.
2.  Pentingnya peranan para Brahmana di Kutai menunjukkan besarnya pengaruh agama Siwa terutama mengenai upacara korban.
3.  Sistem pemerintahan yang awalnya pemerintahan kepala suku berubah menjadi pemerintahan kerajaan (pengaruh Hindu baru masuk pada pemerintahan Kudungga yang dilihat dari nama raja yang masih memakai bahasa Indonesia)
Tarumanegara : berasal dari berita Cina dari jaman dinasti I-ang bahwa pendeta Fa-hien dalam perjalananya dari terdampar di pantai utara pulau Jawa tahun 414 M, saat hendak kembali dari India ke negerinya, Cina, menemukan mayarakat yang mendapat pengaruh Hindu (India) di pantai utara pulau Jawa adalah prasasti-prasasti yang ditemukan menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Misal : Prasasti Ciaruteun menyebutkan bahwa telapak kaki raden Purnawarman disamakan dengan telapak kaki dewa Wisnu (dewa Wisnu adalah salah satu dewa yang dipuja masyarakat Hindu).

<i>tekt miring</i> | <b>TEKS TEBAL</b>

[img]link Image Anda[/img]

[youtube]link video youtube[/youtube]



 
© 2011 Buku PR, TUGAS, dan Catatan Sekolah | www.ok-rek.com | Duwur | okrek | omaSae | BerKADO | Facebook | Twitter | Versi MOBILE